ACARA
II
LUMBUNG BIOMASSA
1. Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Tanaman menghasilkan seresah yang jatuh ke permukaan tanah. Seresah yang
dihasilkan tanaman dapat berupa daun, ranting, batang, maupun bagian tanaman
lainnya. Seresah yang jatuh di permukaan tanah dapat terdekomposisi secara
alami. Proses dekomposisi seresah dapat dipercepat oleh mikroorganisme tanah
sebagai perombak bahan organik. Hasil dekomposisi seresah menyumbangkan asam
asam organik atau humus kedalam tanah. asam organik atau humus dapat
meningkatkan kesuburan tanah. Semakin banyak seresah yang terdekomposisi maka
kesuburan tanah di tempat tersebut akan meningkat.
Pada area atau lokasi tertentu seperti area publik diperlukan
pengelolaan agar seresah dari tanaman tidak mengotori lingkungan disekitarnya.
Daun yang jatuh setiap harinya menjadi sampah sehingga perlu dibersihkan untuk
menjaga kebersihan lingkungan. Sampah daun menjadi penyumbang biomassa yang
dapat didaur ulang dan dimanfaatkan kembali menjadi pupuk kompos untuk tanaman.
Pemanfaatan sampah daun perlu diketahui agar dapat dikelola dengan baik dan
tidak mengotori lingkungan.
Lumbung biomassa dapat menjadi alternatif pengelolaan sampah organik khususnya daun. Lumbung biomassa dinilai cukup efektif dalam pengelolan sampah, selain itu umbung biomassa dapat menampung daun hingga daun terdekomposisi menjadi seresah. Sampah daun dalam lumbung biomassa dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk. Pupuk organik dari daun dapat meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman.
B.
Tujuan
Mengetahui perubahan lapisan daun dalam lumbung biomassa.
2. Tinjauan Pusataka
Sejumlah
besar nutrisi dikembalikan ke tanah melalui serasah yang memiliki peran penting
dalam siklus biogeokimia. Serasah meningkatkan kualitas tanah dengan
menambahkan bahan organik dan nutrisi ke dalam tanah. Serasah daun merupakan
sumber bahan organik dan hara utama dan tercepat bagi tanah dibandingkan dengan
jenis serasah lainnya. Pelepasan nutrisi yang lebih lambat pada tahap akhir
dekomposisi serasah daun yang diatur oleh oksidasi mikroba. Sejumlah besar
bahan organik dan nutrisi ditambahkan ke tanah melalui proses pembusukan
serasah daun dan sebagian dari bahan organik dan nutrisi ini akan digunakan
kembali oleh tanaman. Pada musim hujan terdapat lebih banyak bahan organik dan
unsur hara yang dapat ditambahkan ke dalam tanah melalui proses penguraian
serasah daun karena laju pembusukan pada musim hujan lebih tinggi daripada
musim kemarau. Unsur hara yang ditambahkan dapat berkontribusi pada
keberlanjutan kesuburan tanah, yang penting dalam praktik pertanian (Hassanuzzaman dan Mahmood, 2014).
Dalam ekosistem hutan, serasah merupakan komponen
penting dari siklus hara yang mengatur akumulasi bahan organik tanah (SOM),
masukan dan keluaran unsur hara, pengisian unsur hara, keanekaragaman hayati konservasi,
dan fungsi ekosistem lainnya. Sampah secara langsung terlibat dalam interaksi
tanaman-tanah karena membantu memasukkan karbon dan nutrisi dari tanaman ke
dalam tanah. Selama proses dekomposisi serasah, bahan kimia komposisi serasah
berubah karena degradasi senyawa struktural dan larut. Fauna tanah dan
mikroorganisme berperan besar dalam proses dekomposisi, di mana nutrisi yang
larut mungkin awalnya tercuci dan selanjutnya termineralisasi atau
diimobilisasi tergantung pada permintaan komunitas pengurai (Giweta, 2020).
Saat
ini, sebagian besar sisa tanaman tertinggal di ladang setelah panen dan kurang
digunakan untuk produksi energi.
Bagaimanapun,
sisa tanaman memiliki peran penting untuk menopang dan meningkatkan kimiawi,
fisik dan biologis sifat
dan proses tanah, serta berkontribusi
pada fungsi tanah, pertumbuhan tanaman dan jasa lingkungan lainnya. Dalam
jangka pendek, residu pemanenan
dapat secara signifikan mengubah kadar P dan K, sementara dalam jangka panjang istilah, dampak lebih
relevan pada tingkat N, Ca,
Mg,
S dan mikronutrien. Penggunaan jangka pendek pupuk N dapat meningkatkan imobilisasi
N oleh mikroorganisme. Pemeliharaan sisa tanaman di lapangan adalah faktor
kunci untuk berfungsinya banyak proses fisik dan hidrolik tanah. Selain itu,
sisa tanaman dapat berfungsi sebagai termal isolator mengurangi
pertukaran panas antara tanah dan
atmosfer,
sehingga dapat mengurangi suhu
tanah (Cherubin et al., 2017).
Pupuk
organik bersifat ruah /bulky dengan kadar unsur hara yang terkandung dalam
satuan berat rendah sehingga aplikasinya ke tanaman dibutuhkan dalam volume
yang besar. Unsur hara tersebut dapat diserap oleh tanaman setelah melalui
proses dekomposisi dalam tanah maka digunakan sebagai pupuk dasar. Pupuk
organik termasuk pupuk yang ramah lingkungan dan mempunyai beberapa keunggulan
dibanding jenis pupuk lainnya yaitu: 1) memperbaiki dan menjaga struktur tanah
tetap gembur, sehingga pertumbuhan akar tanaman lebih baik, 2) meningkatkan
daya serap dan daya pegang tanah terhadap air, sehingga ketersediaan air yang
dibutuhkan tanaman memadai, 3) menaikkan kondisi kehidupan di dalam tanah, 4)
mengurangi tersekatnya fosfat dan meningkatkan ketersediaan unsur unsur hara
bermanfaat (Balittanah, 2008). Bagian lunak, contoh: daun, kotoran ternak atau
pupuk kandang, dibuat menjadi kompos melalui proses komposting. Komposting
terdiri dari dua proses: (1) dekomposisi atau perombakan/ penguraian, dan (2)
rekomposisi/ sintesis. Kompos dalam tanah dapat bermanfaat sampai 3-5 tahun
(Yuwono, 2017).
Kandungan
zat hara yang terdapat dalam kompos sangat bervariasi tergantung bahan yang
dikomposkan, cara pengomposan dan cara penyimpanan. Pupuk organik memiliki
peranan penting bagi tanah yaitu dapat mempertahankan dan meningkatkan
kesuburan tanah melalui perbaikan sifat kimia, fisika dan biologi. Bahan organik tidak
langsung dapat dimanfaatkan oleh tanaman karena perbandingan C/N yang masih
relatif tinggi. Tanaman dapat memanfaatkan bahan organik yang mempunyai rasio
C/N mendekati C/N tanah yang nilainya sekitar 10-12. Limbah jerami padi
termasuk bahan organik yang mempunyai rasio C/N tinggi (50-70). Bahan yang
mempunyai rasio C/N tinggi memberikan pengaruh yang lebih besar pada perubahan
sifat-sifat fisik tanah dibanding dengan kompos yang telah terdekomposisi.
Namun bahan dengan rasio C/N tinggi aktivitas biologi mikroorganisme akan
berkurang sehingga mikroorganisme untuk menyelesaikan degradasi bahan kompos
memerlukan waktu lebih lama (Karyaningsih, 2012).
3. Metodologi
Praktikum Keharaan Acara 2 yaitu pembuatan lumbung
biomassa dilaksanakan pada Kamis, 19 Maret 2021 Pukul 13.00-15.00 di Kecamatan Magetan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Pembuatan lumbung biomassa bertujuan mengetahui perubahan lapisan daun. Alat alat yang dibutuhkan yaitu ember, gergaji,
angkur, dan spidol. Bahan yang dibutuhkan yaitu daun kering.
Langkah-langkah pembuatan lumbung
biomassa yaitu bagian bawah ember dilubangi hingga ember menjadi silinder. Sisi
dinding ember dilubangi dengan angkur yang telah dipanaskan yang bertujuan
sebagai pori. Setelah lumbung siap, daun kering dimasukkan ke dalam lumbung
setiap hari selama 2-8 minggu. Pada akhir minggu ke 8, isi dituangkan dengan
diangkat ke atas kemudian dorong dengan kayu dilakukan pengamatan perubahan
pada setiap lapisan daun.
4. Hasil dan Pembahasan
Praktikum acara 2 yaitu lumbung biomassa dilakukan
pada 19 Maret 2021 dan dilakukan pengamatan pada 19 Mei 2021. Berikut hasil
pengamatan praktikum acara lumbung biomassa:
Gambar 1. Hasil lumbung biomassa daun kering
Berdasarkan gambar 1 dapat diketahui terjadi perubahan bentuk dari seresah daun kering dalam lumbung. Daun kering yang tertimbun dan terdapat pada lapisan bawah telah terurai dan berbentuk seresah kecil berwarna hitam seperti tanah sedangkan semakin ke atas atau permukaan maka bentuk daun semakin utuh dan berwarna terang. Hal tersebut dapat disebabkan karena daun bagian atas belum mengalami perubahan struktur atau transformasi karena proses dekomposisi yang terjadi belum berjalan dengan baik. Dekomposisi daun menjadi serpihan kecil pada lumbung biomassa dapat terjadi karena pengaruh fisik (angin, hujan, panas), pengaruh biotik (adanya mikroba perobak bahan organik, kerusakan sel pada daun kering). Menurut Wawan, 2017, Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasikan dengan tanah. Dekomposisi merupakan suatu rangkaian proses yang disebabkan oleh interaksi dari proses fragmentasi, perubahan kimia, serta peluluhan. Pada saat bahan organik mulai mengalami proses dekomposisi, massa bahan organik akan mengalami penurunan secara eksponensial terhadap waktu. Sebagai contoh, serasah daun teruraikan 30-70% dari massanya dalam tahun pertama dan sisanya dalam lima hingga sepuluh tahun kemudian. Organisme heteromorfik di dalam tanah menghancurkan sisasisa tanaman dan binatang dan menggunakan komponen organik sebagai sumber makanan. Daun daun kering yang semula berwaran cerah menjadi gelap karena adanya perubahan susunan kimia yaitu terjadinya peningkatan jumlah humat dalam bahan organik. Penambahan humat akan membuat hasil dekomposisi berwarna coklat hingga coklat gelap.
5. Kesimpulan
Terjadi perubahan pada lapisan daun dalam lumbung
biomassa yaitu daun yang tertimbun di bagian bawah lumbung telah terurai
menjadi serpihan kecil dan berwarna lebih gelap sedangkan daun kering yang
berada di permukaan lumbung belum terurai dan berwarna lembih terang.
Daftar Pustaka
Balai
Penelitian Tanah. 2008. Pupuk organik untuk tingkatkan produksi pertanian.
Balittanah.
Bogor.
Chrubin, M. R., Dener, M. D. S. O., Briggite, J. F., Laisa, G. P.,
Izias, P. L., Maria, R. G., Lectica,
L. V., Marista,
C. M., Lucas, S. S., Gustavo, V. P., Silvia, R. D. P., Arthur, K. B. D. S.,
Ana, L. S. D. V., Paul, L, A. D. M., Eduardo, P. C., dan Carlos, C. C. 2017.
Crop residue harvest for bioenergy production and its implications on soil
functioning and plant growth. Scientia Agricola 75: 255-272
Giweta, M. 2020. Role of litter production
and its decomposition, and factors affecting the
processes
in a tropical forest ecosystem: a review. Journal of Ecology and Environment 44:1-9
Hasanuzzaman, M., dan Mahmood, H. 2014. Leaf litter decomposition and nutrient dynamics
associated with common
horticultural cropland agroforest tree species of Bangladesh.
International Journal of Forestry Research 1-10
Karyaningsih, S. 2012. Pemanfaatan
limbah pertanian untuk mendukung peningkatan kualitas
lahan dan produktivitas padi
sawah. Buana Sains 12 : 45-52
Wawan. 2017. Buku Ajar Pengelolaan Bahan Organik. Universitas Riau. Riau.
Yuwono, N. W. 2017. Teknologi
tribio untuk mempercepat proses perbaikan kesuburan tanah di
lahan kering. Prosiding Seminar Nasional: Perbaikan Kualitas Lahan
Kering untuk Meningkatkan Produksi Pertanian dan Ketahanan Pangan. Banda Aceh


Komentar
Posting Komentar